Senin, 11 Oktober 2010

Tradisi Pendidikan IPS

Secara definitif, model dalam konteks ini dimaknai sebagai kerangka konseptual yang dikembangkan dan diaplikasikan sebagai dasar dan acuan dalam melaksanakan pembelajaran IPS sesuai dengan tujuan dan kepentingannya. Kalangan pakar pendidikan telah mengembangkan sejumlah model pembelajaran IPS, seperti Banks yang dikutip oleh Lasmawan (2008) mengemukakan tiga tradisi pembelajaran, yang terdiri dari: (1) social studies as social sciences, (2) social studies as citizenship education, dan (3) social studies as reflective inquiry. Joice dan Weil (1986) dalam bukunya “Models of Teaching” mengemukakan beberapa model mengajar, walaupun di dalam bahasannya lebih banyak menekankan pada kegiatan belajar peserta didik, yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu: (1) kelompok model pengolahan informasi, (2) kelompok model personal, (3) kelompok model sosial, dan (4) kelompok model sistim perilaku. Sementara Hilda Taba merancang model “berpikir induktif”, yang dimaksudkan untuk membantu  peserta didik untuk mengidentifikasi, menggali, dan mengorganisir informasi melalui uji hipotesis yang di dalamnya termasuk pelukisan kaitan-kaitan logis antara berbagai data (Suwarma, 1991).
Berkaitan dengan model pengembangan kemampuan dan keterampilan inquiri, Ausubel (Kamarga, 2000) telah mengembangkan model pengemas awal (Advance Organizer) yang bertujuan membantu peserta didik untuk memiliki pengalaman dengan struktur kognitif yang nantinya digunakan untuk memahami materi yang disajikan atau dibelajarkan. Keseluruhan model pembelajaran di atas, pada hakekatnya masih lekat dengan warna asalnya, dimana latar sosial budaya yang melatar belakanginya adalah budaya asing dimana model itu dikembangkan. Untuk itu, dalam aplikasinya pada pembelajaran IPS harus dilakukan beberapa penyesuaian dan modifikasi agar sesuai dengan latar sosial-budaya dan kematangan psikologis peserta didik. Hal ini penting, mengingat kondisi alamiah dari pembelajaran IPS di Indonesia berbeda dengan latar sosial dimana model itu dikembangkan. Jika dikaitkan dengan kepentingan pembelajaran IPS sebagai mata pelajaran yang mengemban misi strategis dalam pengembangan peserta didik sebagai warga negara yang baik. Sementara McSavick (2008) dan NCSS (2007) mengemukakan terdapat tiga aliran yang mempengaruhi tradisi dan model pembelajaran IPS, yaitu: (1) aliran para ilmuwan sosial, (2) aliran para pendidik, dan (3) aliran gabungan antara ilmuwan sosial dan ahli pendidikan.
Setiap model memiliki karakteristik masing-masing, sehingga penggunaannya disesuaikan dengan karakteristik materi yang hendak dibelajarkan. Dikaitkan dengan pengembangan berpikir rasional, dalam kegiatan instruksional, dikenal pula beberapa model pembelajaran IPS yang lebih menekankan pada pengembangan dan peningkatan kemampuan berpikir ilmiah dan kreatif sebagaimana layaknya ilmuwan sosial, seperti: inquiry model, problem solving model, dan jurisprudential model (Education Journal, 2007). Dalam tradisi pembelajaran IPS di Indonesia, dikenal beberapa model pendekatan pengorganisasian materi, seperti: (1) pendekatan integrated, yang biasanya dikembangkan pada pembelajaran IPS pada jenjang sekolah dasar, (2) pendekatan corelated, yang biasanya dikembangkan dalam pembelajaran IPS pada jenjang SLTP, dan (3) pendekatan sparated, yang biasanya dikembangkan dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMU. Dilihat dari kaitannya dengan tradisi pembelajaran IPS, maka tampak yang lebih populer dan banyak berpengaruh dalam pengembangan kurikulum IPS adalah model yang menekankan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang disajikan secara terpisah namun tetap ada keterkaitan antara disiplin ilmu sosial yang satu dengan disiplin ilmu sosial yang lainnya (Suwarma, 1991; Lasmawan, 2008).
Beranjak dari analisis terhadap karakteristik pembelajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar di Indonesia, tampak bahwa diantara banyak model yang dikembangkan, model pembelajaran yang termasuk dalam kelompok proses informasi di atas menurut Joice and Weil (1986) dipandang sesuai dan cocok untuk dijadikan sebagai landasan operasional pembelajaran. Kelompok model ini merujuk pada proses dan kegiatan bagaimana peserta didik merespon rangsangan yang berasal dari lingkungan, memproses informasi, mengidentifikasi masalah, menggeneralisasi isu/ masalah, memecahkan masalah, melakukan tindakan dengan menggunakan simbol-simbol baik yang bersifat verbal maupun non-verbal, yang pada akhirnya akan bermuara pada meningkatnya produktivitas berpikir peserta didik. Kelompok model ini, menekankan pada pengembangan fungsi intelektual dan berpikir produktif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa secara teoritis telah banyak model pembelajaran yang dikembangkan dan diteliti oleh para pakar berkaitan dengan pengembangan intelektual dan peningkatan perolehan belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS. Namun  belum banyak yang menyentuh bagaimana upaya meningkatkan literasi sosial-budaya peserta didik dalam pembelajaran IPS. Untuk itu, masih perlu dianalisis dan dilakukan penelitian guna menemukan model pengorganisasian materi, model pembelajaran, buku ajar, danperangkat penilaian yang dapat meningkatkan literasi sosial-budaya dan pemahaman materi peserta didik dalam pembelajaran IPS berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP). Penelitian ini dilakukan dalam rangka mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang masih melekat dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar, khususnya yang menyangkut upaya peningkatan literasi social – budaya siswa, sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2006 dan visi-misi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Pembelajaran IPS dewasa ini, tampaknya harus lebih diarahkan pada pembekalan dan pelatihan kemampuan, pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai sosial dan budaya yang diperlukan oleh peserta didik untuk mengendalikan atau memprediksi dampak-dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi bagi kehidupan masyarakatnya. Bertalian dengan konsepsi ini, masyarakat yang literasi sosial-budaya sangat dibutuhkan, agar mampu mengendalikan kemajuan ilmu dan teknologi, serta abrasi nilai-nilai sosial-budaya di dalam masyarakatnya. Berdasarkan rasional di atas, maka penelitian ini lebih difokuskan pada upaya pengembangan model belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan dan peningkatan literasi sosial-teknologi, pemahaman materi, dan keterampilan sosial peserta didik dalam pembelajaran IPS.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar